Nabi

AGAR BISA MENDAMPINGI RASULULLAH –shallallahu’alaihi wasallam- DISURGA

 

(Judul Asli : Muraafaqatu Rasulillah shallallahu’alaihi wasallam fil jannah)

Oleh : Syaikh Dr. Mahran Mahir Utsman –hafidzhahullah

Segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam, dan semoga shalawat serta taslim senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad yang diutus sebagai rahmat bagi alam semesta ,para keluarga dan sahabatnya.

Aisyah radhiyallahu’anha meriwayatkan : “Ketika kami sedang berada dirumah Abu Bakr pada siang hari yang terik, seseorang berkata kepada Abu Bakr : “Ini Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dalam keadaan menutup wajahnya (menyamar) , mendatangi kita pada waktu yang belum pernah ia mendatangi kita sebelumnya”. Abu Bakr menjawab : “Ayah dan ibuku menjadi tebusan baginya, demi Allah, beliau tidaklah datang pada saat sekarang ini kecuali karena suatu perkara yang penting”. Aisyah melanjutkan : “Rasulullahpun tiba dan meminta izin untuk masuk, beliau lalu diizinkan dan kemudian masuk kerumah Abu Bakr, beliau bersabda : “Keluarkan dulu keluargamu (yang ada dalam rumah ini agar tidak mendengar rahasia kita –pent)”, Abu Bakr menjawab : “Mereka semua keluargamu juga wahai Rasulullah”. Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda : “Sesungguhnya saya telah diizinkan untuk keluar (hijrah ke Madinah)”, Abu Bakrpun bertanya : “Apakah engkau menginginkanku menjadi sahabatmu (dalam perjalanan hijrah) wahai Rasulullah ?”, beliau menjawab : ya . (HR Bukhray).

Hadis ini menunjukkan bahwa hubungan kedekatan dengan Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam merupakan nikmat Allah terbesar atas seorang hamba, apalagi jika hal ini bisa terwujud dalam surga Allah.

Diantara tanda jujurnya kecintaan seorang muslim terhadap beliau adalah menginginkan kehidupan bersama beliau agar bisa berjihad bersamanya, membelanya, dan membantu perjuangannya. Imam Nawawy rahimahullah berkata : “Qadhi Iyadh rahimahullah berkata : “Diantara tanda mencintai Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam adalah menyebarkan sunnahnya, membela syariatnya, dan berharap hidup dizamannya sehingga ia bisa mengorbankan harta dan jiwa demi beliau”.[1]

Allah ta’ala pasti akan mempertemukan antara orang-orang beriman yang jujur dan Nabi mereka Muhammad shallallahu’alaihi wasallam di telaga beliau (Al Kutsar ). Telah diriwayatkan oleh Abu Hurairah radhiyallahu’anhu bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam menziarahi kuburan (para sahabatnya) dan berkata :

«السَّلَامُ عَلَيْكُمْ دَارَ قَوْمٍ مُؤْمِنِينَ، وَإِنَّا إِنْ شَاءَ اللَّهُ بِكُمْ لَاحِقُونَ، وَدِدْتُ أَنَّا قَدْ رَأَيْنَا إِخْوَانَنَا». قَالُوا: أَوَلَسْنَا إِخْوَانَكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: «أَنْتُمْ أَصْحَابِي، وَإِخْوَانُنَا الَّذِينَ لَمْ يَأْتُوا بَعْدُ». فَقَالُوا: كَيْفَ تَعْرِفُ مَنْ لَمْ يَأْتِ بَعْدُ مِنْ أُمَّتِكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ فَقَالَ: «أَرَأَيْتَ لَوْ أَنَّ رَجُلًا لَهُ خَيْلٌ غُرٌّ مُحَجَّلَةٌ بَيْنَ ظَهْرَيْ خَيْلٍ دُهْمٍ بُهْمٍ أَلَا يَعْرِفُ خَيْلَهُ»؟ قَالُوا: بَلَى يَا رَسُولَ اللَّهِ. قَالَ: «فَإِنَّهُمْ يَأْتُونَ غُرًّا مُحَجَّلِينَ مِنْ الْوُضُوءِ، وَأَنَا فَرَطُهُمْ عَلَى الْحَوْضِ، أَلَا لَيُذَادَنَّ رِجَالٌ عَنْ حَوْضِي كَمَا يُذَادُ الْبَعِيرُ الضَّالُّ، أُنَادِيهِمْ: أَلَا هَلُمَّ، فَيُقَالُ: إِنَّهُمْ قَدْ بَدَّلُوا بَعْدَكَ، فَأَقُولُ: سُحْقًا سُحْقًا»

Artinya : “Assalamu’alaikum…di tempat (kuburan) orang-orang beriman, sesungguhnya kami –insya Allah- akan menyusul kalian, saya sudah ingin sekali berjumpa dengan saudara-saudara kita”. Mereka para sahabat bertanya : “Bukankah kami ini saudara-saudaramu wahai Rasulullah ?” Beliau menjawab : “Kalian adalah para sahabatku, saudara-saudara kita adalah orang-orang yang belum ada dizaman ini” ,para sahabat bertanya lagi : “Bagaimanakan engkau bisa tahu orang-orang dari umatmu yang belum datang wahai Rasulullah ?”, beliau menjawab : “Bagaimana menurutmu jika seseorang memiliki seekor kuda yang dahi dan kakinya berbulu putih berada dikumpulan kuda liar ,apakah ia pasti mengenal kudanya ?” mereka menjawab : “tentu wahai Rasulullah”. Beliau bersabda : “Mereka (umatku) akan datang hari kiamat kelak dengan memancarkan cahaya (dari anggota tubuh mereka) dikarenakan wudhu,dan saya mendahului dan menunggu mereka di atas telagaku. Sungguh akan diusir orang-orang dari telagaku sebagaimana diusirnya onta yang tersesat ,lalu saya memanggil mereka : “kemarilah”,tetapi dikatakan kepadaku : “mereka telah merubah agamamu sepeninggalmu”,sayapun berkata : “menjauhlah, menjauhlah.” (HR Muslim)

Setiap mukmin yang tidak lagi bisa menemani Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam didunia tentu sangat mengharapkan agar ia bisa menemaninya diakhirat kelak ditingkat surga yang paling tinggi. Diantara sebab yang bisa mewujudkan harapan seorang muslim agar bisa menjadi pendamping nabinya diakhirat kelak adalah :

a.Sikap Mutaba’ah terhadap sunnah dan Mentaati Allah dan RasulNya

Dalam Mu’jam Kabir ,Ath Thabarani meriwayatkan dari Ibnu Abbas radhiyallahu’anhuma bahwa seseorang mendatangi Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dan berkata : “Wahai Rasulullah, sesungguhnya saya mencintaimu sehingga sayapun selalu menyebut-nyebutmu, seandainya saya tidak bisa mendatangimu dan menjumpaimu saya pasti mengira jiwaku akan keluar dari jasadku (wafat), dan jika saya masuk surga, maka saya pasti akan berada dibawah tempatmu (tidak bersamamu disurga), maka hal ini membuatku sedih, padahal saya sangat ingin agar bersamamu disurga “.Mendengar itu Rasulullah terdiam dan tidak memberikan jawaban apa-apa sehingga Allah ‘azza wajalla menurunkan ayat :

{وَمَنْ يُطِعِ اللَّهَ وَالرَّسُولَ فَأُولَئِكَ مَعَ الَّذِينَ أَنْعَمَ اللَّهُ عَلَيْهِمْ مِنَ النَّبِيِّينَ … } [النساء: 69]

“Barangsiapa yang mentaati Allah dan Rasul maka mereka akan bersama dengan orang-orang yang telah Allah beri nikmat kepada mereka dari kalangan para nabi…. (AnNisa’ : 69).Kemudian rasulullah shallallahu’alaihi wasallam memanggil orang tersebut lalu membacakan ayat ini.

b.Mencintai Nabi shallallahu’alaihi wasallam

Dalam Shahihain Anas radhiyallahu’anhu meriwayatkan ;

أَنَّ رَجُلًا سَأَلَ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم عَنْ السَّاعَةِ، فَقال: مَتَى السَّاعَةُ؟ قال: «وَمَاذَا أَعْدَدْتَ لَهَا»؟ قال: لَا شَيْءَ، إِلَّا أَنِّي أُحِبُّ اللَّهَ وَرَسُولَهُ صلى الله عليه وسلم. فَقال: «أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ». قَالَ أَنَسٌ: فَمَا فَرِحْنَا بِشَيْءٍ فَرَحَنَا بِقَوْلِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم: «أَنْتَ مَعَ مَنْ أَحْبَبْتَ»، فَأَنَا أُحِبُّ النَّبِيَّ صلى الله عليه وسلم، وَأَبَا بَكْرٍ، وَعُمَرَ، وَأَرْجُو أَنْ أَكُونَ مَعَهُمْ بِحُبِّي إِيَّاهُمْ وَإِنْ لَمْ أَعْمَلْ بِمِثْلِ أَعْمَالِهِمْ.

Artinya : Bahwa seseorang bertanya kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tentang hari kiamat dan berkata ; “Kapankah hari kiamat tiba?”, beliau menjawab : “Apa yang engkau persiapkan untuk menghadapinya ?”, ia menjawab : “Tidak ada, melainkan saya mencintai Allah dan RasulNya”, maka Rasulullah bersabda : “Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai”, Anas berkata : “Kami tidak pernah merasa gembira seperti kegembiraan kami dengan ucapan Rasulullah : “Engkau akan bersama dengan orang yang engkau cintai (diakhirat kelak)” sungguh saya mencintai Nabi shallallahu’alaihi wasallam, Abu Bakr dan Umar dan berharap agar saya bisa bersama mereka (diakhirat kelak) disebabkan cintaku terhadap mereka, walaupun saya tidak beramal seperti amalan mareka.”

Akan tetapi orang yang bisa mendapatkan keutamaan ini adalah yang benar-benar membuktikan kecintaannya terhadap Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam dengan cara meniti diatas jejak dan manhajnya, serta mengikuti petunjuknya ,tidak seperti kaum yahudi dan nasrani yang walaupun mereka mencintai nabi-nabi mereka ,mereka tidak akan bisa bersama dengan nabi-nabi tersebut diakhirat kelak karena mereka menyelisihi petunjuk dan agama mereka.Demikian pula kecintaan Abi Thalib terhadap Rasulullah yang mengakibatkan kaumnya sendiri ‘Quraisy’ memboikotnya ,namun hal ini tidak menyelamatkan dirinya dari azab akhirat sebab ia tidak mengikuti petunjuk Nabi shallallahu’alaihi wasallam. Jadi hadis ” seseorang akan bersama dengan orang yang ia cintai (Allah dan RasulNya)” perlu pembuktian dengan cara mengikuti petunjuk Allah dan RasulNya agar cinta itu tidak hanya sekedar klaim belaka.

c.Memperbanyak Shalat

Dalam Shahih Muslim Rabi’ah bin ka’ab Al Aslamy radhiyallahu’anhu berkata :

كُنْتُ أَبِيتُ مَعَ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَأَتَيْتُهُ بِوَضُوئِهِ وَحَاجَتِهِ، فَقَالَ لِي: «سَلْ». فَقُلْتُ: أَسْأَلُكَ مُرَافَقَتَكَ فِي الْجَنَّةِ. قَالَ: «أَوْ غَيْرَ ذَلِكَ»؟ قُلْتُ: هُوَ ذَاكَ. قَالَ: «فَأَعِنِّي عَلَى نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُود».

Artinya : “Adalah saya bermalam bersama Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam ,lalu saya mendatangi beliau dengan membawakan air wudhu dan keperluannya. Beliau lalu bersabda kepadaku : “Mintalah sesuatu kepadaku”, saya berkata : “Saya meminta agar saya bisa bersamamu disurga “, beliau menjawab : “Adakah permintaan selain itu”, saya berkata : “hanya itu’, beliau lalu bersabda ; “Bantulah saya atas dirimu (agar bisa bersamaku disurga kelak) dengan memperbanyak sujud (shalat)”.

Ibnu Qayim rahimahullah berkata : “Jika engkau ingin melihat ketinggian sebuah semangat/cita-cita maka lihatlah cita-cita Rabi’ah bin ka’ab AlAslamy radhiyallahu’anhu ketika Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam berkata kepadanya : “Mintalah’, ia hanya berkata : “Saya meminta agar saya bisa bersamamu didalam surga”, padahal selainnya mungkin akan meminta sesuatu yang bisa mengisi perutnya atau menutup kulitnya”.[2]

Hadis ini juga menunjukkan bahwa cita-cita bisa menemani Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam disurga kelak tidak akan bisa dicapai dengan hanya sekedar berangan-angan akan tetapi harus disertai dengan amalan.Adapun makna “Saya meminta agar saya bisa bersamamu didalam surga” adalah “mohonlah dan berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikanku sebagai salah satu pendampingmu disurga kelak” sebab Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam tidak akan mungkin bisa memasukkan seseorang kedalam surga kecuali dengan izin Allah.

d.Berakhlak yang baik

Dalam Sunan Tirmidzy ,Jabir bin Abdullah radhiyallahu’anhuma meriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

«إِنَّ مِنْ أَحَبِّكُمْ إِلَيَّ وَأَقْرَبِكُمْ مِنِّي مَجْلِسًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَحَاسِنَكُمْ أَخْلَاقًا <<

Artinya : “Sesungguhnya orang yang paling saya cintai dan paling dekat majelisnya denganku diantara kalian hari kiamat kelak (disurga) adalah yang paling baik akhlaknya…”.

e.Memperbanyak Shalawat terhadap Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam

Dari Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu’anhu bahwa rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

«أَوْلَى النَّاسِ بِي يَوْمَ القِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَيَّ صَلاَةً»

Artinya : “Manusia yang paling utama (dekat) denganku hari kiamat kelak adalah yang paling banyak bershalawat atasku” (HR Tirmidzi)

AlMunawi rahimahullah berkata ; “makna (Manusia yang paling utama (dekat) denganku hari kiamat kelak) adalah orang yang paling dekat denganku, yang paling utama mendapatkan syafaatku, dan yang paling berhak mendapatkan kebaikan dan dilindungi dari bencana”.[3]

f.Memelihara anak yatim

Berbuat baik terhadap anak-anak yatim merupakan salah satu sebab mendapatkan derajat surga tertinggi, sebagaimana dalam shahihain dari Sahl bin Sa’ad radhiyallahu’anhu berkata : rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

«أنا وكافل اليتيم في الجنة هكذا» وأشار بالسبَّابة والوسطى وفرَّجَ بينهما.

Artinya : “Saya dan pemelihara anak yatim disurga kelak seperti ini” seraya beliau mengisyaratkan jari tengah dan telunjuknya lalu merenggangkan keduanya”.

Ibnu Baththah rahimahullah berkata : “Wajib bagi orang yang mendengar hadis ini untuk mengamalkannya agar ia bisa menjadi pendamping Nabi shallallahu’alaihi wasallam disurga kelak, sebab tidak ada derajat yang paling utama diakhirat kelak dibandingkan dengannya”.[4]

g.Mendidik Para Wanita

Dalam Kitab Adab Mufrad karya Imam Bukhari rahimahullah Anas bin Malik radhiyallahu’anhu meriwayatkan dari Nabi shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

«من عال جاريتين حتى تدركا، دخلت أنا وهو في الجنة كهاتين». وأشار محمد بن عبد العزيز بالسبابة والوسطى.

Artinya : “Barangsiapa yang memelihara (mendidik) dua wanita sampai mereka dewasa, maka saya akan masuk surga bersamanya disurga kelak seperti ini”, Muhammad bin Abdul’aziz (salah satu rawi hadis ini) mengisyaratkan jari telunjuk dan jari tengahnya.”

Dalam Mushannaf AbdurRazzaq Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

«من كان له أختان أو ابنتان فأحسن إليهما ما صحبتاه كنت أنا وهو في الجنة كهاتين» وقرن بين أصبعيه.

Artinya : “Barangsiapa yang memiliki dua saudari perempuan atau dua anak perempuan lalu ia berbuat baik kepada keduanya (mendidik dan memelihara keduanya) selama bersama dengan mereka, maka saya akan masuk surga bersamanya seperti dua ini” sambil beliau mengisyaratkan dua jarinya.

Dalam hadis lain dari Abu Sa’id AlKhudri radhiyallahu’anhu berkata bahwa Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

«من كان له ثلاث بنات، أو ثلاث أخوات، أو بنتان، أو أختان، فأحسن صحبتهن، واتقى الله فيهن، فله الجنة» رواه الترمذي وأبو داود. وفي لفظ لأبي داود: «فأدبهن، وأحسن إليهن، وزوجهن، فله الجنة».

Artinya : “Barangsiapa yang memiliki tiga orang anak perempuan, atau tiga saudari perempuan, atau dua anak perempuan atau dua saudari perempuan, lalu ia memperbaiki pergaulan dengan mereka, bertakwa kepada Allah dengan menjaga hak-hak mereka, maka baginya adalah surga”. HR Abu Daud dan Tirmidzi, dan dalam riwayat Abu daud ” lalu ia mendidik mereka dan berbuat baik kepada mereka serta menikahkan mereka maka baginya adalah surga”.

h.Memperbanyak Doa

Dalilnya adalah hadis Rabi’ah bin Ka’ab yang meminta kepada Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam agar didoakan menjadi pendamping beliau disurga kelak.Dan dalam Musnad Ahmad, Ibnu Mas’ud radhiyallahu’anhu berkata :

دَخَلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْمَسْجِدَ وَهُوَ بَيْنَ أَبِي بَكْرٍ وَعُمَرَ، وَإِذَا ابْنُ مَسْعُودٍ يُصَلِّي، وَإِذَا هُوَ يَقْرَأُ النِّسَاءَ، فَانْتَهَى إِلَى رَأْسِ الْمِائَةِ، فَجَعَلَ ابْنُ مَسْعُودٍ يَدْعُو وَهُوَ قَائِمٌ يُصَلِّي، فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «اسْأَلْ تُعْطَهْ، اسْأَلْ تُعْطَهْ». ثُمَّ قَالَ: «مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَقْرَأَ الْقُرْآنَ غَضًّا كَمَا أُنْزِلَ فَلْيَقْرَأْهُ بِقِرَاءَةِ ابْنِ أُمِّ عَبْدٍ». فَلَمَّا أَصْبَحَ غَدَا إِلَيْهِ أَبُو بَكْرٍ لِيُبَشِّرَهُ، وَقَالَ لَهُ: مَا سَأَلْتَ اللَّهَ الْبَارِحَةَ؟ قَالَ: قُلْتُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ إِيمَانًا لَا يَرْتَدُّ، وَنَعِيمًا لَا يَنْفَدُ، وَمُرَافَقَةَ مُحَمَّدٍ فِي أَعْلَى جَنَّةِ الْخُلْدِ. ثُمَّ جَاءَ عُمَرُ، فَقِيلَ لَهُ: إِنَّ أَبَا بَكْرٍ قَدْ سَبَقَكَ، قَالَ: يَرْحَمُ اللَّهُ أَبَا بَكْرٍ،مَا سَبَقْتُهُ إِلَى خَيْرٍ قَطُّ إِلَّا سَبَقَنِي إِلَيْهِ.

Artinya : “Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam masuk masjid dan beliau berada diantara Abu Bakr dan Umar, sedangkan Ibnu Mas’ud sedang berdiri shalat dan membaca Surat AnNisa’ hingga sampai pada ayat ke seratus, lalu Ibnu Mas’ud berdoa dalam keadaan berdiri shalat, maka Nabipun berkata kepadanya : “mohonlah (kepada Allah) niscaya engkau akan diberi, mohonlah (kepada Allah) niscaya engkau akan diberi”.Kemudian beliau bersaabda : “barangsiapa yang ingin membaca AlQur-an secara hafalan sebagaimana diturunkan maka hendaknya membaca dengan bacaan Ibnu Ummi Abdin (Ibnu Mas’ud)”, Setelah keesokan harinya, Abu Bakr radhiyallahu’anhu mendatangi Ibnu Mas’ud untuk menyampaikan kabar gembira tersebut kepadanya , dan bertanya : “Doa apa yang engkau mohon kepada Allah tadi malam ?”, Ibnu Mas’ud menjawab : “Saya berdoa : Wahai Allah saya memohon kepadaMu keimanan yang tidak akan berubah dengan kemurtadan, kenikmatan yang tiada putus,dan menjadi pendamping Muhammad shallallahu’alaihi wasallam diderajat tertinggi dari surga yang kekal.” Kemudian Umar radhiyallahu’anhu datang (untuk memberikan kabar gembira yang sama) ,namun dikatakan kepadanya : “Abu bakr telah mendahuluimu”, maka iapun berkata : “Semoga Allah mencurahkan rahmat terhadap Abu Bakr, tiada satu amalan kebaikanpun yang saya ingin mendahuluinya melainkan dia telah mendahuluiku.”

Terakhir, yang perlu diperhatikan adalah bahwa kebersamaan seorang muslim dengan Rasulullah diakhirat kelak tidak menunjukkan bahwa derajat rasul dengannya adalah sama sebab dalam shahih Muslim dan selainnya Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam bersabda :

«إذا سمعتم المؤذن فقولوا مثل ما يقول، ثم صلوا علي؛ فإنه من صلى علي صلاة صلى الله عليه بها عشرا، ثم سلوا الله لي الوسيلة؛ فإنها منزلة في الجنة لا تنبغي إلا لعبد من عباد الله، وأرجو أن أكون أنا هو، فمن سأل لي الوسيلة حلت له الشفاعة»

Artinya : “JIka kalian mendengar suara muadzin maka ucapkanlah apa yang ia ucapkan, kemudian bershalawatlah atasku karena barangsiapa yang bershalawat atasku satu kali niscaya Allah akan bershalawat (memuji dan mencurahkan rahmat) atasnya sepuluh kali, lalu mintalah kepada Allah untukku ‘alwasilah’ sebab ia adalah sebuah derajat disurga yang tidak pantas ditempati kecuali bagi seorang hamba diantara hamba-hamba Allah, dan saya berharap hamba tersebut adalah saya, dan barangsiapa yang memohonkanku ‘alwasilah’ maka ia berhak mendapatkan syafaatku”.

Hadis ini menunjukkan bahwa derajat surga yang paling tinggi hanyalah diperuntukkan bagi Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam ,adapun ucapan Rabi’ah dalam hadis diatas “Saya meminta agar bisa bersamamu dalam surga” maka maknanya adalah sebagaimana yang dikatakan para ulama : “saya memohon bisa menemani dan berada dekat denganmu dalam surga, dan tidak bermaksud memohon derajat yang sama dengan Nabi berupa derajat ‘alwasilah’, dan tidak pula memohon agar mendapatkan kenikmatan surga yang sama dengan Nabi shallallahu’alaihi wasallam”.

Ibnu ‘Allan Asy Syafi’I rahimahullah berkata : “makna (“Saya meminta agar bisa bersamamu dalam surga”) adalah “agar saya bisa mendapatkan tempat didalamnya yang dekat denganmu, merasa bahagia dengan terus melihat dan berdekatan denganmu sehingga tidak berpisah denganmu” ,dengan makna ini maka tidak dipermasalahkan lagi bahwa derajat ‘alwasilah’ hanyalah khusus bagi Nabi shallallahu’alaihi wasallam tanpa diperuntukkan kepada semua para nabi, derajat ini tidak bisa disamai oleh seorang nabipun apalagi selain mereka, karena maksud dari –ucapan Rabi’ah- diatas adalah agar ia mendapatkan sebuah derajat yang dekat dengan derajat beliau shallallahu’alaihi wasallam sehingga iapun menamainya sebagai “murafaqah/kebersamaan”.[5]

Ya Allah, kami memohon agar bisa bersama dan menjadi pendamping Nabi kami Muhammad shallallahu’alaihi wasallam diderajat surga tertinggi..amin..

Semoga shalawat, salam dan berkah senantiasa tercurahkan atas beliau, keluarga dan segenap sahabatnya.. (penerjemah : abu shofwan dengan beberapa perubahan seperlunya – sumber www.saaid.nethttp://darul-anshar.com

[1] .Syarh Muslim (2/16)

[2] .Madarik AsSalikin (2/147)

[3] .Faidh AlQadir (2/560)

[4] .Fath Albary (17/142)

[5] .Dalil AlFalihin (1/392)